Aku yakin bahwa setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Sekalipun kandas atau pahit pada akhirnya, tapi pasti ada saat- saat membahagiakan di dalamnya. Saat kita merasa melambung tinggi di udara, saat kita merasa kehabisan kata untuk mengungkapkannya, atau saat dimana kita ingin waktu berhenti sesaat saat bersamanya. Itulah cinta sebagai fitrah Sang Kuasa yang bisa dibolak- balikkan menjadi dosa atau pahala—tinggal bagaimana manusia mengolahnya.
Aku sendiri tak luput dari cinta. Meskipun aku pernah beranggapan bahwa tak ada cinta yang sejati—dulu. Tapi kini aku beranggapan sebaliknya… Aku sadar betul bahwa cinta adalah sesuatu yang essensial, bahkan sebab utama yang membuat manusia ada di bumi.
Aku hanya ingin berkata bijak pada diriku sendiri, dan pada kalian semua, Sahabatku. Bahwa cinta kita masing- masing itulah cinta sebenar- benar cinta. Jangan pernah menjadikan pasangan kita seperti orang lain. Jangan paksa dia untuk menjadi seseorang lain yang bukan dirinya. Syukurilah segala yang ada pada dirinya, karena aku yakin dia pasti pernah membuat kita bahagia…
Jika saat ini kita merasa menyesal telah memilih dia sebagai pasangan kita, ingatlah saat dulu kita begitu bahagia mendapat pernyataan cinta darinya. Lalu ingatlah bagaimana dulu kita telah memikirkan matang- matang untuk memilihnya. Syukurilah apa yang ada pada dirinya…
Namun jika saat ini kita merasa bahwa berpisah adalah jalan terbaik, berpisahlah dengan sebaik- baik cara… Bagaimanapun juga dia adalah orang yang pernah berhubungan baik dengan kita. Putuskan saja jika itu memang yang terbaik dan telah dipikirkan sebaik mungkin, daripada kau pukul pasanganmu atau kau hardik dia dengan kata- kata pahit karena sudah tak lagi suka melihatnya.
Mungkin aku sendiri belum paham betul apa itu cinta… Tapi hanya inilah ungkapan singkat dariku tentangnya…
Bicarakan semuanya baik- baik, dan marilah belajar untuk tetap menjadi manusia…
Bismillah dan alhamdulillah... Akhirnya lahir juga blog ini. Semoga bermanfaat dan dapat menghibur, maaf jika tidak berkenan... :)
Senin, 21 Februari 2011
Sabtu, 19 Februari 2011
Tentang Kita
Kepalaku dan kepalamu itu sama kerasnya, Sayang.
Saat Kau berteriak, akupun tak mau kalah berteriak.
Apalagi saat Kau diam tanpa kata, tak segan pula kututup rapat mulut ini tanpa suara.
Pikiranku dan pikiranmu pun sama…
Saat Kau menerawang memikirkan sesuatu, secara ajaib aku dapat mengungkap apa yang Kau renungkan.
Dan satu lagi yang sama, Sayang.
Hati kita!
Saat hatimu membuncah penuh cinta dan gelora, akupun sama!
Seakan ingin meledak tanpa kendali dan permisi.
Menggebrak, menendang, dan menelan segala keterbatasan.
Aku masih milikmu, Sayangku…
-19/02-
Saat Kau berteriak, akupun tak mau kalah berteriak.
Apalagi saat Kau diam tanpa kata, tak segan pula kututup rapat mulut ini tanpa suara.
Pikiranku dan pikiranmu pun sama…
Saat Kau menerawang memikirkan sesuatu, secara ajaib aku dapat mengungkap apa yang Kau renungkan.
Dan satu lagi yang sama, Sayang.
Hati kita!
Saat hatimu membuncah penuh cinta dan gelora, akupun sama!
Seakan ingin meledak tanpa kendali dan permisi.
Menggebrak, menendang, dan menelan segala keterbatasan.
Aku masih milikmu, Sayangku…
-19/02-
Kamis, 17 Februari 2011
Suara Mahakam
Musim ini masih tetap sama dengan tahun- tahun yang lalu. Daun- daun kering berwarna keemasan masih setia mengguguriku tiap kali aku melewati kerindangannya. Jembatan Mahakam itu… Ah, masih berdiri tegap di tengah rayuan maut sungai terpanjang di Indonesia itu. Decitan burung- burung gereja pun tak kalah riuh dengan gemerisik angin yang bertiup lembut.
Aku juga masih sama.
Masih merindukan pria yang satu itu. Hmm… Kuhembuskan nafas panjang tiap kali menyebut namanya.
Kusibakkan jilbab merah jambu yang kubeli dari tawar menawar sengit dulu bersamanya. Aku yang tak pernah mau kalah harga, dan dia yang hanya tersenyum lucu melihat keseriusanku menawar.
Hah… Di mana lagi bisa kutemukan lelaki seperti itu. Yang begitu polos dan lugunya, tapi tetap bersahaja dan mempesona. Lelaki ndeso, tapi justru itulah yang pada zaman sekarang ini begitu sulit dicari. Lulusan pesantren, anak kampung, jujur dan tidak neko- neko. Yang ternyata diam- diam menyimpan bergudang ilmu dalam otak dan hatinya. Lebur semua pandangan kolotku tentang ketertinggalan anak pesantren, tentang kumal dan kolotnya mereka saat aku mulai mengenal dirinya. Dia selalu rapi dan wangi… Padahal sebagian orang di sana masih mempeributkan halal atau haramnya pemakaian minyak wangi. Dia juga suka belajar bahasa Inggris dan suka sekali kuajak menonton film di bioskop, sementara ada orang yang mengatakan bahwa hal- hal tersebut sama sekali tak bermanfaat. Pernah suatu kali kutanyakan padanya mengapa dia tak berpikiran sama seperti mereka, jawabannya ringan saja dan membuatku terkekeh. “Masih banyak yang harus diurusi. Bukan minyak wangi saja, Dek…” Pengetahuan dan wawasannya pun di luar dugaanku. Tak hanya ilmu qur`an, tajwid, atau tafsir saja yang dikuasainya. Terakhir yang kutahu, dia juga aktif dalam redaksi kampus.
Meskipun begitu, dia tetap dia yang sebenarnya. Yang tetap ndeso dan apa adanya. Kuingat betul ekspresi wajahnya yang aneh saat pertama kali kukenalkan pada hamburger. Setengah ragu- ragu dijilatinya lelehan keju yang ada di pinggirannya, sampai kemudian berkata… “Ternyata enak ya, Dek”. Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk tanda setuju.
Kembali kutekuri riak- riak Mahakam yang bersilau- silau gemerlapan. Berdiri, kususuri tepian sungai itu. Saat tiba- tiba— secara ajaib— sosok itu muncul di hadapanku! Di gemerlapan kilau Mahakam!
Kubuka Mulutku lebar- lebar lalu memanggilnya, tak akan pernah kubiarkan lagi dia lari dari hadapanku.
“Mas!”
Suara daun- daun gugur, suara riak Mahakam, dan decitan burung gereja terdengar semakin jelas saat ternyata tak ada satu nada suarapun keluar dari mulutku. Aku ternganga.
Ternyata itu suara hatiku.
Aku juga masih sama.
Masih merindukan pria yang satu itu. Hmm… Kuhembuskan nafas panjang tiap kali menyebut namanya.
Kusibakkan jilbab merah jambu yang kubeli dari tawar menawar sengit dulu bersamanya. Aku yang tak pernah mau kalah harga, dan dia yang hanya tersenyum lucu melihat keseriusanku menawar.
Hah… Di mana lagi bisa kutemukan lelaki seperti itu. Yang begitu polos dan lugunya, tapi tetap bersahaja dan mempesona. Lelaki ndeso, tapi justru itulah yang pada zaman sekarang ini begitu sulit dicari. Lulusan pesantren, anak kampung, jujur dan tidak neko- neko. Yang ternyata diam- diam menyimpan bergudang ilmu dalam otak dan hatinya. Lebur semua pandangan kolotku tentang ketertinggalan anak pesantren, tentang kumal dan kolotnya mereka saat aku mulai mengenal dirinya. Dia selalu rapi dan wangi… Padahal sebagian orang di sana masih mempeributkan halal atau haramnya pemakaian minyak wangi. Dia juga suka belajar bahasa Inggris dan suka sekali kuajak menonton film di bioskop, sementara ada orang yang mengatakan bahwa hal- hal tersebut sama sekali tak bermanfaat. Pernah suatu kali kutanyakan padanya mengapa dia tak berpikiran sama seperti mereka, jawabannya ringan saja dan membuatku terkekeh. “Masih banyak yang harus diurusi. Bukan minyak wangi saja, Dek…” Pengetahuan dan wawasannya pun di luar dugaanku. Tak hanya ilmu qur`an, tajwid, atau tafsir saja yang dikuasainya. Terakhir yang kutahu, dia juga aktif dalam redaksi kampus.
Meskipun begitu, dia tetap dia yang sebenarnya. Yang tetap ndeso dan apa adanya. Kuingat betul ekspresi wajahnya yang aneh saat pertama kali kukenalkan pada hamburger. Setengah ragu- ragu dijilatinya lelehan keju yang ada di pinggirannya, sampai kemudian berkata… “Ternyata enak ya, Dek”. Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk tanda setuju.
Kembali kutekuri riak- riak Mahakam yang bersilau- silau gemerlapan. Berdiri, kususuri tepian sungai itu. Saat tiba- tiba— secara ajaib— sosok itu muncul di hadapanku! Di gemerlapan kilau Mahakam!
Kubuka Mulutku lebar- lebar lalu memanggilnya, tak akan pernah kubiarkan lagi dia lari dari hadapanku.
“Mas!”
Suara daun- daun gugur, suara riak Mahakam, dan decitan burung gereja terdengar semakin jelas saat ternyata tak ada satu nada suarapun keluar dari mulutku. Aku ternganga.
Ternyata itu suara hatiku.
Tentang dirimu, jodohmu. Tentang diriku, jodohku.
Aku percaya Tuhan, dan aku percaya akan jodoh.
Akupun mengerti bahwa kita merupakan bagian dari catatan rahasia nan agung itu.
Tentang dirimu, jodohmu.
Tentang diriku, jodohku.
Aku hanya senoktah ketiadaan dari segala keagunganNya yang telah menciptakan Adam dan Hawa.
Yang lagi- lagi akupun hanya menjadi keturunan mereka yang entah keberapa.
Tapi aku bersyukur, Sang Maha penjamin jodoh di atas sana telah dengan rela mengenalkanku pada turunan Adam sepertimu.
Saat nanti, jika ternyata aku bukanlah jodohmu, kuharap aku tetap bisa tersenyum tanpa penyesalan. Bergumam syukur seraya mendoakanmu, dan mengukir senyuman untuk kekasihmu, yang seakan berkata : Beruntunglah Kau, mendapatkan lelaki sepertinya.
Tapi jika ternyata aku memang jodohmu, aku akan senantiasa memanjatkan doa untuk kita, untuk turunan- turunan kita selanjutnya, dan mengembangkan senyum untukmu, yang bermakna : Maha suci Allah, ternyata akulah hawamu.
Semarang, 25 Juni 2010
Akupun mengerti bahwa kita merupakan bagian dari catatan rahasia nan agung itu.
Tentang dirimu, jodohmu.
Tentang diriku, jodohku.
Aku hanya senoktah ketiadaan dari segala keagunganNya yang telah menciptakan Adam dan Hawa.
Yang lagi- lagi akupun hanya menjadi keturunan mereka yang entah keberapa.
Tapi aku bersyukur, Sang Maha penjamin jodoh di atas sana telah dengan rela mengenalkanku pada turunan Adam sepertimu.
Saat nanti, jika ternyata aku bukanlah jodohmu, kuharap aku tetap bisa tersenyum tanpa penyesalan. Bergumam syukur seraya mendoakanmu, dan mengukir senyuman untuk kekasihmu, yang seakan berkata : Beruntunglah Kau, mendapatkan lelaki sepertinya.
Tapi jika ternyata aku memang jodohmu, aku akan senantiasa memanjatkan doa untuk kita, untuk turunan- turunan kita selanjutnya, dan mengembangkan senyum untukmu, yang bermakna : Maha suci Allah, ternyata akulah hawamu.
Semarang, 25 Juni 2010
Seperti Mereka
Aku masih terus mengamatinya.
Anak laki- laki kecil berusia 10 tahun itu, berjalan bersama adik perempuannya yang mungkin masih berusia 5 atau 6 tahun.
Sesekali bercanda, saling cubit lalu tertawa.
Dari kejauhan kulihat ibunya yang duduk di bawah pohon jambu air.
Menanti, atau lebih tepatnya mengawasi kedua anaknya mencari nafkah. Entah siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini, aku tak tahu. Anak kecil seusia mereka, yang belum tahu betul betapa kejamnya dunia, menyeret langkah di sepanjang trotoar demi rasa iba dan santunan ratusan bahkan ribuan manusia modern— yang menghabiskan ratusan atau jutaan rupiah hanya untuk sekali makan— yang setiap kali mengeluh hanya karena telah berjalan sejauh beberapa meter tanpa mobil— yang berlalu lalang.
Terkadang beberapa dari mereka memberi, sekadar lima ratus atau dua ratus rupiah. Tapi tak sedikit pula yang hanya berlalu, menutup mata dan tak mau tahu akan kehadiran dua malaikat kecil pembawa bekas bungkus makanan ringan itu.
Entah di mana ayahnya. Mungkin sudah mati, atau mungkin ibunya sendiri tak tahu siapa ayah mereka.
Si ibu— yang mungkin lelah karena sesiangan telah melakukan tugas serupa sehingga merelakan untuk digantikan sementara oleh kedua anaknya— sekarang nampak sudah tertidur pulas.
Aku masih terus mengamati mereka dari kejauhan.
Sekarang sang kakak laki- laki mengalungkan tangannya ke pundak adik perempuannya.
Manis… Sungguh indah tiada terperi pemandangan ini.
Seorang anak kecil yang umurnya jauh puluhan tahun di bawahku, namun mampu begitu dewasanya terhadap seorang yang disayanginya. Anak perempuan itu, sekarang tengah menunjuk pada mainan- mainan yang dijajakan di pinggir jalan. Mulai merengek.
Dia menginginkan mainan itu. Mainan murahan, yang mungkin sama sekali tak ada artinya bagi kebanyakan orang, yang mungkin hanya dibeli hanya untuk dimainkan sekali lalu dibuang.
Sang kakak jongkok, membisikkan sesuatu kepada adiknya.
Mungkin memberi tahu, bahwa uang yang mereka punya tak cukup untuk membelinya. Atau mungkin menjanjikan untuk membelikannya pada saat ulang tahun adiknya tiba, bukan sekarang.
Ah… Ulang tahun. Mana ingat mereka tentang hal itu? Tahu saja mungkin tidak. Yang mereka tahu hanya bekerja, untuk kehidupan mereka sekeluarga. Keluarga.
Mereka terus berjalan, masih menyusuri trotoar yang sama.
Namun aku sudah tak berada pada tempatku berada tadi.
Aku melayang, seperti medusa yang sebelum akhirnya berubah menjadi ubur- ubur sempurna.
Aku terbang, jauh menembus keberadaan masa.
Kulihat ibuku, bapakku, aku dan kedua kakak laki- lakiku.
Dulu, dulu sekali.
Saat usiaku mungkin tak jauh berbeda dari gadis kecil tadi.
Saat aku masih merasa menjadi bagian dari hidup yang sempurna.
Saat bapak masih sering mengangkatku tinggi tinggi dan kemudian menjatuhkanku ke atas ranjangku.
Saat ibu masih tersenyum melihat aku menjadi korban dari kejahilan kedua kakak laki-lakiku.
Saat aku masih menunggu kakak- kakakku pulang sekolah di pintu depan rumah.
Saat aku dan kakak- kakakku mengendap- endap untuk bermain keluar rumah saat waktu tidur siang tiba.
Saat kami dibelikan baju koko dan sarung baru untuk lebaran…
Saat itu, dulu.
Jauh sebelum aku berada di pinggiran kota kecil ini sekarang— yang menurutku tak sehangat dulu ketika aku masih bersama mereka— berdiri mengamati kedua anak kecil peminta- minta. Dulu, sebelum masa telah merubah semua.
Dan tiba- tiba aku ingin menjadi mereka, anak kecil bersama kakak dan ibunya. Bersama keluarga.
Anak laki- laki kecil berusia 10 tahun itu, berjalan bersama adik perempuannya yang mungkin masih berusia 5 atau 6 tahun.
Sesekali bercanda, saling cubit lalu tertawa.
Dari kejauhan kulihat ibunya yang duduk di bawah pohon jambu air.
Menanti, atau lebih tepatnya mengawasi kedua anaknya mencari nafkah. Entah siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini, aku tak tahu. Anak kecil seusia mereka, yang belum tahu betul betapa kejamnya dunia, menyeret langkah di sepanjang trotoar demi rasa iba dan santunan ratusan bahkan ribuan manusia modern— yang menghabiskan ratusan atau jutaan rupiah hanya untuk sekali makan— yang setiap kali mengeluh hanya karena telah berjalan sejauh beberapa meter tanpa mobil— yang berlalu lalang.
Terkadang beberapa dari mereka memberi, sekadar lima ratus atau dua ratus rupiah. Tapi tak sedikit pula yang hanya berlalu, menutup mata dan tak mau tahu akan kehadiran dua malaikat kecil pembawa bekas bungkus makanan ringan itu.
Entah di mana ayahnya. Mungkin sudah mati, atau mungkin ibunya sendiri tak tahu siapa ayah mereka.
Si ibu— yang mungkin lelah karena sesiangan telah melakukan tugas serupa sehingga merelakan untuk digantikan sementara oleh kedua anaknya— sekarang nampak sudah tertidur pulas.
Aku masih terus mengamati mereka dari kejauhan.
Sekarang sang kakak laki- laki mengalungkan tangannya ke pundak adik perempuannya.
Manis… Sungguh indah tiada terperi pemandangan ini.
Seorang anak kecil yang umurnya jauh puluhan tahun di bawahku, namun mampu begitu dewasanya terhadap seorang yang disayanginya. Anak perempuan itu, sekarang tengah menunjuk pada mainan- mainan yang dijajakan di pinggir jalan. Mulai merengek.
Dia menginginkan mainan itu. Mainan murahan, yang mungkin sama sekali tak ada artinya bagi kebanyakan orang, yang mungkin hanya dibeli hanya untuk dimainkan sekali lalu dibuang.
Sang kakak jongkok, membisikkan sesuatu kepada adiknya.
Mungkin memberi tahu, bahwa uang yang mereka punya tak cukup untuk membelinya. Atau mungkin menjanjikan untuk membelikannya pada saat ulang tahun adiknya tiba, bukan sekarang.
Ah… Ulang tahun. Mana ingat mereka tentang hal itu? Tahu saja mungkin tidak. Yang mereka tahu hanya bekerja, untuk kehidupan mereka sekeluarga. Keluarga.
Mereka terus berjalan, masih menyusuri trotoar yang sama.
Namun aku sudah tak berada pada tempatku berada tadi.
Aku melayang, seperti medusa yang sebelum akhirnya berubah menjadi ubur- ubur sempurna.
Aku terbang, jauh menembus keberadaan masa.
Kulihat ibuku, bapakku, aku dan kedua kakak laki- lakiku.
Dulu, dulu sekali.
Saat usiaku mungkin tak jauh berbeda dari gadis kecil tadi.
Saat aku masih merasa menjadi bagian dari hidup yang sempurna.
Saat bapak masih sering mengangkatku tinggi tinggi dan kemudian menjatuhkanku ke atas ranjangku.
Saat ibu masih tersenyum melihat aku menjadi korban dari kejahilan kedua kakak laki-lakiku.
Saat aku masih menunggu kakak- kakakku pulang sekolah di pintu depan rumah.
Saat aku dan kakak- kakakku mengendap- endap untuk bermain keluar rumah saat waktu tidur siang tiba.
Saat kami dibelikan baju koko dan sarung baru untuk lebaran…
Saat itu, dulu.
Jauh sebelum aku berada di pinggiran kota kecil ini sekarang— yang menurutku tak sehangat dulu ketika aku masih bersama mereka— berdiri mengamati kedua anak kecil peminta- minta. Dulu, sebelum masa telah merubah semua.
Dan tiba- tiba aku ingin menjadi mereka, anak kecil bersama kakak dan ibunya. Bersama keluarga.
Jurang
Aku benci dengan semua orang kaya. Bahkan mereka yang berpura- pura kaya.
Yang mengendarai sebuah mobil hanya untuk pergi ke minimarket terdekat.
Yang selalu menutup wajah kepanasan saat mereka harus keluar dari ruangan- ruangan mereka yang ber-AC.
Yang selalu mengeluh hanya karena kaki mereka terciprat lumpur karena hujan.
Aku benci dengan pria- pria kaya, yang selalu menjadikan hartanya sebagai pelunas atas segala kedangkalan otak mereka di hadapan para kekasihnya.
Yang selalu menahan kekasihnya yang akan membayarkan bill makan malam mereka, padahal sang gadispun hanya pura-pura hendak membayarkan.
Akupun tak kalah benci dengan wanita- wanita kaya, yang selalu berkacamata hitam tebal ke mana saja mereka pergi.
Yang menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli tas sandang, atau untuk sabun gosok wajah mulus mereka.
Anak- anak kaya apalagi. Yang selalu mengoleksi berbagai permainan canggih yang sekalipun belum pernah aku menyentuhnya.
Yang seringkali menangis cengeng hanya karena bekal makanan mereka terasa kurang enak.
Yang secara ajaib dapat memasuki sekolah- sekolah ternama, padahal otak mereka tak beda jauh dengan udang.
Aku anak miskin, di sini.
Setiap pagi digedor bagai buruh kasar, dianggap tukang tidur sekalipun aku hanya tidur tiga jam semalaman.
Mencuci piring, membantu memasak, menghalau kambing- kambing yang masuk pekarangan.
Aku di sini, sejak kecil dibesarkan di panti ini.
Aku yang tak pernah melihat seperti apa wujud orang tuaku.
Aku yang setiap pagi mengulurkan tangan menerima uang saku seribu rupiah.
Aku yang pernah dimaki habis- habisan oleh seorang bapak kaya, hanya karena tak sengaja menggores cat mobilnya.
Aku yang selalu terdiam saat teman- teman kayaku mengejekku karena tak memiliki boneka barbie seperti mereka.
Aku yang seringkali dipandang setengah mata oleh orang lain, meskipun mereka juga belum tentu lebih baik dariku.
Aku benci semua orang kaya…
Yang mengendarai sebuah mobil hanya untuk pergi ke minimarket terdekat.
Yang selalu menutup wajah kepanasan saat mereka harus keluar dari ruangan- ruangan mereka yang ber-AC.
Yang selalu mengeluh hanya karena kaki mereka terciprat lumpur karena hujan.
Aku benci dengan pria- pria kaya, yang selalu menjadikan hartanya sebagai pelunas atas segala kedangkalan otak mereka di hadapan para kekasihnya.
Yang selalu menahan kekasihnya yang akan membayarkan bill makan malam mereka, padahal sang gadispun hanya pura-pura hendak membayarkan.
Akupun tak kalah benci dengan wanita- wanita kaya, yang selalu berkacamata hitam tebal ke mana saja mereka pergi.
Yang menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli tas sandang, atau untuk sabun gosok wajah mulus mereka.
Anak- anak kaya apalagi. Yang selalu mengoleksi berbagai permainan canggih yang sekalipun belum pernah aku menyentuhnya.
Yang seringkali menangis cengeng hanya karena bekal makanan mereka terasa kurang enak.
Yang secara ajaib dapat memasuki sekolah- sekolah ternama, padahal otak mereka tak beda jauh dengan udang.
Aku anak miskin, di sini.
Setiap pagi digedor bagai buruh kasar, dianggap tukang tidur sekalipun aku hanya tidur tiga jam semalaman.
Mencuci piring, membantu memasak, menghalau kambing- kambing yang masuk pekarangan.
Aku di sini, sejak kecil dibesarkan di panti ini.
Aku yang tak pernah melihat seperti apa wujud orang tuaku.
Aku yang setiap pagi mengulurkan tangan menerima uang saku seribu rupiah.
Aku yang pernah dimaki habis- habisan oleh seorang bapak kaya, hanya karena tak sengaja menggores cat mobilnya.
Aku yang selalu terdiam saat teman- teman kayaku mengejekku karena tak memiliki boneka barbie seperti mereka.
Aku yang seringkali dipandang setengah mata oleh orang lain, meskipun mereka juga belum tentu lebih baik dariku.
Aku benci semua orang kaya…
ILUSI
“ Bangsat! “, teriakku pada seorang di hadapanku.
“ Kau, Kau benar- benar tak lebih dari sampah!”, aku mulai kehilangan kesabaran.
“ Manusia macam apa Kau ini?? “, aku mulai memberinya pertanyaan retorika dan dia mulai menangis.
“ Tangisan palsu!”, hardikku.
“ Percuma Kau teteskan ribuan air mata! Kau tetap hina! Tak lebih baik dari binatang! “
Dia menatapku ketakutan sambil tak henti- hentinya mengucurkan air mata.
“ Kau bilang Kau wanita baik- baik? Hah? Lalu apa yang telah Kau perbuat??”
Dia diam seperti sedang berpikir keras atas jawaban dari pertanyaanku, sambil masih tetap terisak menangis.
“ Semua yang dikatakan orang adalah bohong bahwa mereka percaya Kau wanita baik- baik! “
Dia kehabisan air mata.
“ Jawab!! Apakah Kau tak punya cukup jawaban atas pertanyaanku?? “
Dia terdiam sambil menatapku dengan matanya yang merah semerah bata akibat kucuran air matanya.
“ Kenapa masih diam?? “
Aku kehilangan kesabaran, dan melayanglah kepalan tanganku padanya.
Praaannggg…! Seketika, hancurlah berkeping- keping kaca di hadapanku.
“ Kau, Kau benar- benar tak lebih dari sampah!”, aku mulai kehilangan kesabaran.
“ Manusia macam apa Kau ini?? “, aku mulai memberinya pertanyaan retorika dan dia mulai menangis.
“ Tangisan palsu!”, hardikku.
“ Percuma Kau teteskan ribuan air mata! Kau tetap hina! Tak lebih baik dari binatang! “
Dia menatapku ketakutan sambil tak henti- hentinya mengucurkan air mata.
“ Kau bilang Kau wanita baik- baik? Hah? Lalu apa yang telah Kau perbuat??”
Dia diam seperti sedang berpikir keras atas jawaban dari pertanyaanku, sambil masih tetap terisak menangis.
“ Semua yang dikatakan orang adalah bohong bahwa mereka percaya Kau wanita baik- baik! “
Dia kehabisan air mata.
“ Jawab!! Apakah Kau tak punya cukup jawaban atas pertanyaanku?? “
Dia terdiam sambil menatapku dengan matanya yang merah semerah bata akibat kucuran air matanya.
“ Kenapa masih diam?? “
Aku kehilangan kesabaran, dan melayanglah kepalan tanganku padanya.
Praaannggg…! Seketika, hancurlah berkeping- keping kaca di hadapanku.
Arini
A
rini terseok- seok menyusuri jalanan kampung.
Melewati kali kanal penuh sampah, beberapa warung kopi, dan rumah- rumah petak lainnya.
Malam itu malam kedua puluh tiga bulan Ramadhan, tapi tak ada bedanya bagi Arini.
Malam ini sama dengan malam kemarin, atau malam dulu saat ia mulai belajar memakai gincu, belajar berlatih menarik para pemuda iseng yang lewat hanya untuk menggoda dirinya, atau om- om kaya yang memang berniat menawannya.
Malam itu bulan purnama dan hening sekali, mungkin saja malam Lailatul Qadar--- begitu yang ia pernah dengar.
Hanya lagu- lagu dangdut yang diputar agak keras dari beberapa warung kopi saja yang dapat ia dengar. Beberapa kali langkahnya nyaris terjerembab, karena gaun panjang warna merahnya tak pantas melewati daerah kumuh seperti kampungnya itu.
Gaun itu… Hadiah.
Dari Om Sis. Oh, bukan... Mungkin juga dari Om Agus. Entahlah, Arini sudah lupa.
Beberapa pasang mata masih menatapnya dengan pandangan muak, atau malah jijik dan ingin muntah.
Sudah Arini katakan, malam ini tak ada bedanya dengan malam- malam sebelumnya.
10 menit berjalan, sampailah Arini pada sebuah rumah petak kecil.
Tidak bagus, yang penting cukup untuk menampungnya dan bidadari kecilnya.
Dibukanya pintu rumah hati- hati.
Oh… Intan sudah tidur.
Dengan segera dihampirinya putri kecilnya itu.
Dikecupnya kening bocah perempuan berumur 7 tahun itu, dibetulkan pula letak selimutnya.
Arini bergegas menuju meja rias kecil di sudut kamarnya.
Dinyalakannya televisi tanpa memilih channel terlebih dahulu dengan suara yang rendah.
Arini mulai membersihkan sisa riasannya, melepas bulu mata palsunya, dan menyisir rambutnya.
Dipandanginya wajahnya di cermin.
“Masih cantik…”, batinnya dalam hati.
Dibukanya tas kulit kecil yang dibawanya menjaja diri tadi.
Tujuh lembar seratus ribuan.
“Ah, baik sekali bapak muda tadi. Mungkin ini pertama kalinya dia melakukan hal ini”, Arini tersenyum senang sambil memasukkan uang tadi ke dalam dompet coklatnya.
Siaran televisi mulai mendengungkan suara kehidupan.
Rupanya acara menjelang sahur.
Pembicaranya sudah cukup terkenal. Setidaknya, Arini tahu siapa namanya.
Beberapa menit berlanjut dan Arini masih tetap tak peduli, sedangkan sang ustadz masih terus saja mengkhotbahkan dakwah- dakwah keagamaannya.
“Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk kita memperbaiki diri. Marilah kita tinggalkan maksiat, dan kembali ke jalan Allah!”.
Arini hanya melirik sebentar, kemudian mengambil remote dan mematikan televisi.
Ia hanya tersenyum mendengar kalimat tadi, dan kemudian melanjutkan merinci kebutuhan hidup dan keperluan sekolah Intan dari tujuh lembar seratus ribuan tadi.
Sekali lagi, malam ini sama dengan malam- malam sebelumnya di mata Arini.
rini terseok- seok menyusuri jalanan kampung.
Melewati kali kanal penuh sampah, beberapa warung kopi, dan rumah- rumah petak lainnya.
Malam itu malam kedua puluh tiga bulan Ramadhan, tapi tak ada bedanya bagi Arini.
Malam ini sama dengan malam kemarin, atau malam dulu saat ia mulai belajar memakai gincu, belajar berlatih menarik para pemuda iseng yang lewat hanya untuk menggoda dirinya, atau om- om kaya yang memang berniat menawannya.
Malam itu bulan purnama dan hening sekali, mungkin saja malam Lailatul Qadar--- begitu yang ia pernah dengar.
Hanya lagu- lagu dangdut yang diputar agak keras dari beberapa warung kopi saja yang dapat ia dengar. Beberapa kali langkahnya nyaris terjerembab, karena gaun panjang warna merahnya tak pantas melewati daerah kumuh seperti kampungnya itu.
Gaun itu… Hadiah.
Dari Om Sis. Oh, bukan... Mungkin juga dari Om Agus. Entahlah, Arini sudah lupa.
Beberapa pasang mata masih menatapnya dengan pandangan muak, atau malah jijik dan ingin muntah.
Sudah Arini katakan, malam ini tak ada bedanya dengan malam- malam sebelumnya.
10 menit berjalan, sampailah Arini pada sebuah rumah petak kecil.
Tidak bagus, yang penting cukup untuk menampungnya dan bidadari kecilnya.
Dibukanya pintu rumah hati- hati.
Oh… Intan sudah tidur.
Dengan segera dihampirinya putri kecilnya itu.
Dikecupnya kening bocah perempuan berumur 7 tahun itu, dibetulkan pula letak selimutnya.
Arini bergegas menuju meja rias kecil di sudut kamarnya.
Dinyalakannya televisi tanpa memilih channel terlebih dahulu dengan suara yang rendah.
Arini mulai membersihkan sisa riasannya, melepas bulu mata palsunya, dan menyisir rambutnya.
Dipandanginya wajahnya di cermin.
“Masih cantik…”, batinnya dalam hati.
Dibukanya tas kulit kecil yang dibawanya menjaja diri tadi.
Tujuh lembar seratus ribuan.
“Ah, baik sekali bapak muda tadi. Mungkin ini pertama kalinya dia melakukan hal ini”, Arini tersenyum senang sambil memasukkan uang tadi ke dalam dompet coklatnya.
Siaran televisi mulai mendengungkan suara kehidupan.
Rupanya acara menjelang sahur.
Pembicaranya sudah cukup terkenal. Setidaknya, Arini tahu siapa namanya.
Beberapa menit berlanjut dan Arini masih tetap tak peduli, sedangkan sang ustadz masih terus saja mengkhotbahkan dakwah- dakwah keagamaannya.
“Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk kita memperbaiki diri. Marilah kita tinggalkan maksiat, dan kembali ke jalan Allah!”.
Arini hanya melirik sebentar, kemudian mengambil remote dan mematikan televisi.
Ia hanya tersenyum mendengar kalimat tadi, dan kemudian melanjutkan merinci kebutuhan hidup dan keperluan sekolah Intan dari tujuh lembar seratus ribuan tadi.
Sekali lagi, malam ini sama dengan malam- malam sebelumnya di mata Arini.
Penjara Wanita
“H
eh! Mana sarapan pagiku?? Jam segini masih saja sibuk sendiri!”
Wanita berkulit kusam itu hanya diam dihardik seperti itu. Mungkin demi menghindari amarah yang mungkin lebih meledak, atau mungkin demi mengalah kepada manusia setengah waras tersebut.
“Hei! Sudah tak becus, kenapa diam saja??”. Lelaki hitam legam itu pun naik pitam dan dengan segera mengangkat segelas air teh yang sedari tadi seperti hendak pecah dalam genggamannya. Diayunkan gelas tersebut dan, byuuuur....
Kepala ibuku basah kuyup. Basah hingga rambutnya kuyu tak beraturan.
Itu ayahku, yang telah menyiramkan segelas air teh ke kepala ibuku, istrinya sendiri.
Aku tak sengaja melihat kejadian itu saat aku keluar dari kamar untuk bersiap ke sekolah. Beberapa saat kemudian kudengar sesenggukan suara ibuku menangis. Lalu disusul makian dan mungkin tendangan— jika aku tak salah dengar— menghampiri tubuh wanita itu.
Aku sendiri sudah nyaris kehilangan naluriku sebagai manusia. Aku tak tahu harus seperti apa dan bagaimana menyikapi kejadian yang telah menjadi makanan sehari-hariku itu. Seperti biasanya, aku hanya mampu menuntun ibuku ke kamar untuk menenangkannya. Setelah kurasa ia cukup tenang, barulah aku berangkat sekolah.
Kuseret kakiku dengan malas menuju sekolahku yang berjarak kurang lebih 1 km. Semilir angin tak lebih kurasakan sebagai hawa panas yang menggelayuti batin dan pikirku. Aku sudah lelah, lelah dengan semua kekejaman yang dilakukan oleh tangan ayahku sendiri, orang yang berandil penuh dalam menghadirkanku ke dunia
Aku lelaki, tapi nyaris tak pernah bangga dengan kelelakianku. Aku bahkan membenci diriku, kenapa harus terlahir sebagai lelaki, sama seperti ayahku. Sama dengan makhluk yang selalu menyiksa ibu kandungku.
Sesampainya di sekolah pun aku mengikuti pelajaran seperti biasa. Meskipun aku berasal dari keluarga yang bisa disebut disfunctional, teman- teman dan guruku menganggapku cerdas. Aku sering menjadi sumber pertanyaan mereka untuk berbagai mata pelajaran yang belum mereka pahami. Aku tak pernah keberatan akan hal itu, bahkan aku suka berlama- lama di sekolah. Sampai kegiatan kerja bakti yang biasa dibenci siswa lain pun aku suka melakukannya. Yang penting aku tidak di rumah, tidak berada di dalamnya. Jika orang lain mengatakan bahwa rumah adalah surga, maka akulah orang pertama yang akan menyangkalnya. Rumahku adalah penjara. Penjara atas segala bentuk kebebasan. Kebebasan seorang istri untuk mendapatkan hak dan kebahagiaannya, kebebasan seorang anak dalam mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Bahkan terkadang aku sering heran memikirkan, bagaimana ceritanya dulu sampai ayah dan ibuku bisa menikah, bisa menghasilkanku. Jika terkadang aku menanyakan hal itu pada ibu, paling dia hanya akan menjawab, “Hussh, sudahlah, Le… Ndak usah tanya yang macem- macem! Kalau bapakmu dengar, malah gawat urusannya lho!”
Ibu wanita nomor satu buatku. Selama dia mampu, dia akan menyembunyikan segala bentuk kesedihannya di hadapanku. Sepuluh kali dipukul Bapak, mungkin dia hanya akan berkata satu kali. Selalu kuat dan berusaha menyenangkan aku—anak satu- satunya.
Aku terus bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang seperti itu, dalam penjara. Sampai sekarang setidaknya aku mampu sedikit bernafas lega, karena aku telah menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta. Kuputuskan untuk mencari beasiswa di kota ini, sengaja agar tak terlalu jauh dari rumah. Agar aku bisa sewaktu- waktu pulang ke rumah. Kuakui, aku merasa jauh lebih baik saat aku berada jauh dari bayangan hitam wajah ayahku. Setidaknya di sini, aku terlenakan oleh segudang aktifitas kampus dan kegiatan menulisku yang kutekuni sejak semester kedua aku berkuliah. Sebenarnya bukan pilihan yang mudah untuk memutuskan melanjutkan kuliah dan meninggalkan ibu sendirian di rumah bersamanya. Tapi kubulatkan tekad bulat- bulat untuk tetap maju pada akhirnya, dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti bila aku telah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang mapan, aku akan membawa pergi ibuku, menyelamatkannya.
Kuselesaikan tulisan demi tulisan yang menjadi tanggunganku minggu ini. Deadline dari redaktur hanya tinggal dua hari lagi. Ingin segera aku berlari sampai rumah jika kuingat suara ibuku melalui telefon dua hari yang lalu.
“ Cepat pulang yo, Le… Ibu pingin segera ketemu kamu… “
Tidak biasanya ibu menelfon seperti itu. Biasanya, akulah yang lebih sering menghubunginya untuk sekedar bertanya kabar. Dalam perbincangan dua hari lalu itu, sempat kutanyakan ke mana ayahku. Ibu hanya menjawab bahwa sudah hampir sebulan ini ia tak pulang ke rumah. Aku tak khawatir dan sama sekali tak ingin tahu kemana dia pergi, bahkan sebenarnya sama sekali tak peduli. Aku malah senang jika lelaki itu tak akan pernah kembali untuk selamanya. Meskipun menurut pengakuan ibu sekarang dia sudah jarang berbuat kasar, tetapi aku masih belum bisa menghapuskan segala bayangan hitam tentang dirinya. Tentang perlakuan kejinya terhadap ibuku dulu, tentang raut wajah bencinya tiap kali melihat wajahku. Bahkan dulu sewaktu kecil, aku ingin segera menjadi dewasa agar bisa balas memukul ayahku dengan sekuat- kuat tenagaku, atau bahkan membunuhnya—tak memberinya kesempatan lagi untuk bernafas, meskipun hanya sesaat. Tetapi saat kini aku telah dewasa, pikiran itu tak lagi muncul. Yang ada sekarang, aku hanya ingin makhluk itu tak mengganggu kehidupan kami lagi.
Aku kuliah, menjalani aktifitas kampus, menulis, dan sesekali pulang ke rumah. Begitu terus kulalui hingga tak terasa aku berada di ujung masa kuliahku. Satu demi satu ujian dan pengerjaan skripsi kulakukan dengan semangat, dengan harapan agar aku bisa membahagiakan ibuku. Aku terus melaju dan berlalu, hingga akhirnya aku berhasil menjadi salah satu dari lima lulusan dengan predikat cumlaude. Ingin aku bersorak dan mengabarkan pada seisi langit bahwa aku telah berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Ibu! Dia adalah orang yang akan kucium kaki dan tangannya atas keberhasilanku ini. Dia yang tak pernah berhenti mengucurkan air mata dalam tiap doanya untukku. Dia yang selalu dengan tegar berhasil melewati sesi demi sesi penyiksaan yang ayah lakukan hingga aku dewasa. Dia yang selalu mengajarkan padaku bahwa mengalah tak berarti kalah. Aku berlari seakan tanpa henti hingga terminal Tirtonadi dan mencari bus patas yang akan dengan segera mengantarku ke kampungku. Aku duduk di dalam bus, tapi batinku telah berkelana lebih cepat sampai tujuan. Ingin kukabarkan pada ibuku berita yang luar biasa ini. Kutahan denyutan di ubun- ubunku yang serasa nyaris meledak. Kutahan. Kutahan dan akhirnya sampailah aku di ujung jalan rumahku! Aku berlari dengan sejuta senyum yang mengembang. Berlari hingga jantungku serasa tak mampu mengimbangi euforia letupan isi dadaku. Hingga akhirnya aku sampai di dalam rumah dan menyadari bahwa yang kudapati di depan mataku hanyalah kosong.
Aku kebingungan mencari- cari di mana ibuku. Aku kebingungan, linglung seperti pandir yang tak pernah tahu arah. Sedang kucoba melihat ke kandang ayam di sebelah rumah saat salah tetanggaku akhirnya melihatku dan terlihat sedikit terkejut.
“Lho… Baru pulang, Le?”
“Nggih, budhe. Niki nembe ningali ibu` kok boten wonten.”
“Wealaah… Ibumu ki ning rumah sakit, Le. Wingi Bapakmu bali, koyokke kok terus ribut- ribut. Ibumu kelaran, langsung diterke pakdhemu menyang rumah sakit… Sabar yo,Le…”
Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak selamanya. Denyutan ubun- ubunku yang sedari tadi seakan hendak meledak berbalik seperti hendak menghujam tubuhku dengan berliter cairan yang ada di dalamnya. Segera kutanyakan dimana rumah sakitnya dan tanpa banyak waktu kuseret kakiku dengan perasaan tak karuan. Tak sabar aku ingin melihat keadaannya—wanita yang paling kucintai itu.
Akhirnya kutatap wajah wanita ringkih yang semakin menua itu—yang sedang terlelap dalam. Tak sabar ingin kukabarkan padanya bahwa aku telah lulus dan siap untuk mengentaskannya dari siksa neraka dunia. Bahwa aku tak akan pernah lagi tertinggal satu langkahpun untuk melindunginya.
Tapi ternyata, penantian demi penantianku itu pada akhirnya tak berujung. Ibuku tidak akan pernah bangun… Ibuku tidak akan pernah melihat senyum kelulusanku.
Ibu meninggal dunia satu hari setelah kedatanganku. Ibuku meninggal akibat ditoyorkan kepalanya ke tembok dua hari lalu—saat ayahku tak berhasil mendapat raupan rupiah darinya. Serigala itu ternyata bangkit, setelah berpuasa beberapa lamanya. Perkiraanku bahwa mungkin dia pergi untuk bertaubat ternyata salah besar. Dia tetap serigala, dan selamanya serigala. Kucium wajah ibuku untuk terakhir kalinya, sebelum kami berpisah untuk selamanya.
“Sekolah sing pinter yo,Le… Nanti ibu ikut kamu saja kalau kamu sudah kerja dan punya istri…”
Air mataku jatuh tak tertahan ke atas bumi ini.
Sesaat setelah itu, keinginanku saat kecil dulu menyeruak dan muncul kembali tak terkendali. Seakan tak sabar untuk segera terwujudkan oleh tanganku sendiri.
Meskipun menurut pengakuan ibu sekarang dia jarang berbuat kasar, tetapi aku masih belum bisa menghapuskan segala bayangan hitam tentang dirinya. Tentang perlakuan kejinya terhadap ibuku dulu, tentang raut wajah bencinya saat melihat wajahku. Bahkan dulu sewaktu kecil, aku ingin segera menjadi dewasa agar bisa balas memukul ayahku dengan sekuat- kuat tenagaku, atau bahkan membunuhnya—tak memberinya kesempatan lagi untuk bernafas, meskipun hanya sesaat.
Diselesaikan di Tenggarong, 2 Februari 2011; 20.55
eh! Mana sarapan pagiku?? Jam segini masih saja sibuk sendiri!”
Wanita berkulit kusam itu hanya diam dihardik seperti itu. Mungkin demi menghindari amarah yang mungkin lebih meledak, atau mungkin demi mengalah kepada manusia setengah waras tersebut.
“Hei! Sudah tak becus, kenapa diam saja??”. Lelaki hitam legam itu pun naik pitam dan dengan segera mengangkat segelas air teh yang sedari tadi seperti hendak pecah dalam genggamannya. Diayunkan gelas tersebut dan, byuuuur....
Kepala ibuku basah kuyup. Basah hingga rambutnya kuyu tak beraturan.
Itu ayahku, yang telah menyiramkan segelas air teh ke kepala ibuku, istrinya sendiri.
Aku tak sengaja melihat kejadian itu saat aku keluar dari kamar untuk bersiap ke sekolah. Beberapa saat kemudian kudengar sesenggukan suara ibuku menangis. Lalu disusul makian dan mungkin tendangan— jika aku tak salah dengar— menghampiri tubuh wanita itu.
Aku sendiri sudah nyaris kehilangan naluriku sebagai manusia. Aku tak tahu harus seperti apa dan bagaimana menyikapi kejadian yang telah menjadi makanan sehari-hariku itu. Seperti biasanya, aku hanya mampu menuntun ibuku ke kamar untuk menenangkannya. Setelah kurasa ia cukup tenang, barulah aku berangkat sekolah.
Kuseret kakiku dengan malas menuju sekolahku yang berjarak kurang lebih 1 km. Semilir angin tak lebih kurasakan sebagai hawa panas yang menggelayuti batin dan pikirku. Aku sudah lelah, lelah dengan semua kekejaman yang dilakukan oleh tangan ayahku sendiri, orang yang berandil penuh dalam menghadirkanku ke dunia
Aku lelaki, tapi nyaris tak pernah bangga dengan kelelakianku. Aku bahkan membenci diriku, kenapa harus terlahir sebagai lelaki, sama seperti ayahku. Sama dengan makhluk yang selalu menyiksa ibu kandungku.
Sesampainya di sekolah pun aku mengikuti pelajaran seperti biasa. Meskipun aku berasal dari keluarga yang bisa disebut disfunctional, teman- teman dan guruku menganggapku cerdas. Aku sering menjadi sumber pertanyaan mereka untuk berbagai mata pelajaran yang belum mereka pahami. Aku tak pernah keberatan akan hal itu, bahkan aku suka berlama- lama di sekolah. Sampai kegiatan kerja bakti yang biasa dibenci siswa lain pun aku suka melakukannya. Yang penting aku tidak di rumah, tidak berada di dalamnya. Jika orang lain mengatakan bahwa rumah adalah surga, maka akulah orang pertama yang akan menyangkalnya. Rumahku adalah penjara. Penjara atas segala bentuk kebebasan. Kebebasan seorang istri untuk mendapatkan hak dan kebahagiaannya, kebebasan seorang anak dalam mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Bahkan terkadang aku sering heran memikirkan, bagaimana ceritanya dulu sampai ayah dan ibuku bisa menikah, bisa menghasilkanku. Jika terkadang aku menanyakan hal itu pada ibu, paling dia hanya akan menjawab, “Hussh, sudahlah, Le… Ndak usah tanya yang macem- macem! Kalau bapakmu dengar, malah gawat urusannya lho!”
Ibu wanita nomor satu buatku. Selama dia mampu, dia akan menyembunyikan segala bentuk kesedihannya di hadapanku. Sepuluh kali dipukul Bapak, mungkin dia hanya akan berkata satu kali. Selalu kuat dan berusaha menyenangkan aku—anak satu- satunya.
Aku terus bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang seperti itu, dalam penjara. Sampai sekarang setidaknya aku mampu sedikit bernafas lega, karena aku telah menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta. Kuputuskan untuk mencari beasiswa di kota ini, sengaja agar tak terlalu jauh dari rumah. Agar aku bisa sewaktu- waktu pulang ke rumah. Kuakui, aku merasa jauh lebih baik saat aku berada jauh dari bayangan hitam wajah ayahku. Setidaknya di sini, aku terlenakan oleh segudang aktifitas kampus dan kegiatan menulisku yang kutekuni sejak semester kedua aku berkuliah. Sebenarnya bukan pilihan yang mudah untuk memutuskan melanjutkan kuliah dan meninggalkan ibu sendirian di rumah bersamanya. Tapi kubulatkan tekad bulat- bulat untuk tetap maju pada akhirnya, dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti bila aku telah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang mapan, aku akan membawa pergi ibuku, menyelamatkannya.
Kuselesaikan tulisan demi tulisan yang menjadi tanggunganku minggu ini. Deadline dari redaktur hanya tinggal dua hari lagi. Ingin segera aku berlari sampai rumah jika kuingat suara ibuku melalui telefon dua hari yang lalu.
“ Cepat pulang yo, Le… Ibu pingin segera ketemu kamu… “
Tidak biasanya ibu menelfon seperti itu. Biasanya, akulah yang lebih sering menghubunginya untuk sekedar bertanya kabar. Dalam perbincangan dua hari lalu itu, sempat kutanyakan ke mana ayahku. Ibu hanya menjawab bahwa sudah hampir sebulan ini ia tak pulang ke rumah. Aku tak khawatir dan sama sekali tak ingin tahu kemana dia pergi, bahkan sebenarnya sama sekali tak peduli. Aku malah senang jika lelaki itu tak akan pernah kembali untuk selamanya. Meskipun menurut pengakuan ibu sekarang dia sudah jarang berbuat kasar, tetapi aku masih belum bisa menghapuskan segala bayangan hitam tentang dirinya. Tentang perlakuan kejinya terhadap ibuku dulu, tentang raut wajah bencinya tiap kali melihat wajahku. Bahkan dulu sewaktu kecil, aku ingin segera menjadi dewasa agar bisa balas memukul ayahku dengan sekuat- kuat tenagaku, atau bahkan membunuhnya—tak memberinya kesempatan lagi untuk bernafas, meskipun hanya sesaat. Tetapi saat kini aku telah dewasa, pikiran itu tak lagi muncul. Yang ada sekarang, aku hanya ingin makhluk itu tak mengganggu kehidupan kami lagi.
Aku kuliah, menjalani aktifitas kampus, menulis, dan sesekali pulang ke rumah. Begitu terus kulalui hingga tak terasa aku berada di ujung masa kuliahku. Satu demi satu ujian dan pengerjaan skripsi kulakukan dengan semangat, dengan harapan agar aku bisa membahagiakan ibuku. Aku terus melaju dan berlalu, hingga akhirnya aku berhasil menjadi salah satu dari lima lulusan dengan predikat cumlaude. Ingin aku bersorak dan mengabarkan pada seisi langit bahwa aku telah berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Ibu! Dia adalah orang yang akan kucium kaki dan tangannya atas keberhasilanku ini. Dia yang tak pernah berhenti mengucurkan air mata dalam tiap doanya untukku. Dia yang selalu dengan tegar berhasil melewati sesi demi sesi penyiksaan yang ayah lakukan hingga aku dewasa. Dia yang selalu mengajarkan padaku bahwa mengalah tak berarti kalah. Aku berlari seakan tanpa henti hingga terminal Tirtonadi dan mencari bus patas yang akan dengan segera mengantarku ke kampungku. Aku duduk di dalam bus, tapi batinku telah berkelana lebih cepat sampai tujuan. Ingin kukabarkan pada ibuku berita yang luar biasa ini. Kutahan denyutan di ubun- ubunku yang serasa nyaris meledak. Kutahan. Kutahan dan akhirnya sampailah aku di ujung jalan rumahku! Aku berlari dengan sejuta senyum yang mengembang. Berlari hingga jantungku serasa tak mampu mengimbangi euforia letupan isi dadaku. Hingga akhirnya aku sampai di dalam rumah dan menyadari bahwa yang kudapati di depan mataku hanyalah kosong.
Aku kebingungan mencari- cari di mana ibuku. Aku kebingungan, linglung seperti pandir yang tak pernah tahu arah. Sedang kucoba melihat ke kandang ayam di sebelah rumah saat salah tetanggaku akhirnya melihatku dan terlihat sedikit terkejut.
“Lho… Baru pulang, Le?”
“Nggih, budhe. Niki nembe ningali ibu` kok boten wonten.”
“Wealaah… Ibumu ki ning rumah sakit, Le. Wingi Bapakmu bali, koyokke kok terus ribut- ribut. Ibumu kelaran, langsung diterke pakdhemu menyang rumah sakit… Sabar yo,Le…”
Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak selamanya. Denyutan ubun- ubunku yang sedari tadi seakan hendak meledak berbalik seperti hendak menghujam tubuhku dengan berliter cairan yang ada di dalamnya. Segera kutanyakan dimana rumah sakitnya dan tanpa banyak waktu kuseret kakiku dengan perasaan tak karuan. Tak sabar aku ingin melihat keadaannya—wanita yang paling kucintai itu.
Akhirnya kutatap wajah wanita ringkih yang semakin menua itu—yang sedang terlelap dalam. Tak sabar ingin kukabarkan padanya bahwa aku telah lulus dan siap untuk mengentaskannya dari siksa neraka dunia. Bahwa aku tak akan pernah lagi tertinggal satu langkahpun untuk melindunginya.
Tapi ternyata, penantian demi penantianku itu pada akhirnya tak berujung. Ibuku tidak akan pernah bangun… Ibuku tidak akan pernah melihat senyum kelulusanku.
Ibu meninggal dunia satu hari setelah kedatanganku. Ibuku meninggal akibat ditoyorkan kepalanya ke tembok dua hari lalu—saat ayahku tak berhasil mendapat raupan rupiah darinya. Serigala itu ternyata bangkit, setelah berpuasa beberapa lamanya. Perkiraanku bahwa mungkin dia pergi untuk bertaubat ternyata salah besar. Dia tetap serigala, dan selamanya serigala. Kucium wajah ibuku untuk terakhir kalinya, sebelum kami berpisah untuk selamanya.
“Sekolah sing pinter yo,Le… Nanti ibu ikut kamu saja kalau kamu sudah kerja dan punya istri…”
Air mataku jatuh tak tertahan ke atas bumi ini.
Sesaat setelah itu, keinginanku saat kecil dulu menyeruak dan muncul kembali tak terkendali. Seakan tak sabar untuk segera terwujudkan oleh tanganku sendiri.
Meskipun menurut pengakuan ibu sekarang dia jarang berbuat kasar, tetapi aku masih belum bisa menghapuskan segala bayangan hitam tentang dirinya. Tentang perlakuan kejinya terhadap ibuku dulu, tentang raut wajah bencinya saat melihat wajahku. Bahkan dulu sewaktu kecil, aku ingin segera menjadi dewasa agar bisa balas memukul ayahku dengan sekuat- kuat tenagaku, atau bahkan membunuhnya—tak memberinya kesempatan lagi untuk bernafas, meskipun hanya sesaat.
Diselesaikan di Tenggarong, 2 Februari 2011; 20.55
Aku Ingin Menggugat
Aku ingin menggugat. Menggugat. Menggugat segala bentuk ketidakadilan. Menggugat segala macam penindasan. Penindasan penguasa pada rakyat jelatanya, penindasan kaum mayoritas terhadap para minoritas yang ada. Apa yang ada dalam tempurung kepala mereka atas segala bentuk penindasan yang mereka lakukan? Sengajakah mereka menekan kaum- kaum tak berdaya atas segala kuasa mereka? Salahkan para minoritas yang tak pernah minta dilahirkan sebagaimana mereka? Aku menggugat! Benar- benar menggugat!
Bagaimana hal semacam itu dapat terjadi justru saat persamaan hak dielu-elukan? Mengapa kita yang melihat bayi- bayi bernama kesucian diberedel perutnya hanya mampu diam dan tak berkutik? Samakah kita dengan para otokrasi yang mendewakan kekuasaan? Samakah kita dengan para algojo pembunuh hak hidup manusia??
Kawanku, bukalah mata kalian selebar- lebarnya. Berikanlah hak kepada mereka yang benar- benar berhak menerimanya. Tuntutlah hak kalian sebagaimana kalian inginkan apabila kewajiban telah kalian lakukan. Tuntut! Tuntut sampai akhir nafas kalian! Jangan pernah biarkan para perampas mengambil kebebasan kalian!
Kalian bukan jelata! Kalian bukan minoritas!
Kalian sama dengan mereka, Kawan. Kalian sama berharganya.
Dari aku dan kalianlah kuharapkan ada perubahan kecil yang berarti dalam dunia ini.
-Pemberontak ketidakadilan-
Bagaimana hal semacam itu dapat terjadi justru saat persamaan hak dielu-elukan? Mengapa kita yang melihat bayi- bayi bernama kesucian diberedel perutnya hanya mampu diam dan tak berkutik? Samakah kita dengan para otokrasi yang mendewakan kekuasaan? Samakah kita dengan para algojo pembunuh hak hidup manusia??
Kawanku, bukalah mata kalian selebar- lebarnya. Berikanlah hak kepada mereka yang benar- benar berhak menerimanya. Tuntutlah hak kalian sebagaimana kalian inginkan apabila kewajiban telah kalian lakukan. Tuntut! Tuntut sampai akhir nafas kalian! Jangan pernah biarkan para perampas mengambil kebebasan kalian!
Kalian bukan jelata! Kalian bukan minoritas!
Kalian sama dengan mereka, Kawan. Kalian sama berharganya.
Dari aku dan kalianlah kuharapkan ada perubahan kecil yang berarti dalam dunia ini.
-Pemberontak ketidakadilan-
29 Okober 2010
Ini surat untukmu, Tuhan.
Tuhan…
Kaki siapa itu? Aku melihatnya menjuntai pada tandu- tandu kematian.
Siapa mereka? Yang berubah wujud menjadi patung…
Kaku.. Dingin.. Berdebu… dan tercerai berai.
Tuhan… Anak kecil itu…
Yang masih menanggung wajah tak berdosa tetapi sudah harus terbujur kaku.
Ibunya menangis tersedu- sedu di sebelahnya, berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Yang itu! Berjalan tertatih- tatih menahan sakit karena kedua kakinya remuk.
Tuhan…
Itu!
Itu Yogyakarta…
Itu Daerah Istimewa yang terletak di pulauku.
Mereka terlebih dahulu Kau beri peringatan…
Peringatan?
Benarkah?
Atau itu ujian? Atau bencana?
Bagaimana dengan aku? Aku yang masih saja bisa tertidur lelap di atas bantalan maksiat. Aku yang masih saja tertawa lepas di bawah tindihan gunungan dosa…
Tuhan…
Sesungguhnya apakah yang Kau berikan pada mereka?
Ujian atas mereka yang tabah hatinya.
Atau peringatan atas rusaknya alam mereka?
Atau bencana atas maksiat mereka?
Atau justru… Justru kebaikanmu atas mereka?
Karena justru lebih baik mereka seperti itu, saat mereka mungkin Kau matikan dengan sebaik- baik cara yang tak satupun dari Kami, manusia, mengerti.
Saat kami mengira mereka mati mengenaskan, mungkin mengesankan bagiMu.
Siapa tahu Kau matikan mereka saat itu, saat mereka telah bersujud memohon ampunan padaMu.
Saat kami mengira itu bencana, mungkin itu hadiah terindahMu untuk mereka.
Atas sayangMu pada mereka, yang tak ingin mereka berkesempatan melakukan dosa lagi. Maka Kau berikan itu.
Tuhan…
Ampuni kami yang lalai.
Yang mengira bahwa alasan Kau tak menurunkan bencana di tanah kami adalah karena kebaikan kami, yang sesungguhnya sama sekali tak seberapa.
Yang mengira bahwa bencana dariMu dalam diri kami adalah anugerah.
Mata kami telah buta,Tuhan! Kami tak lagi dapat melihat…
Telinga kami telah tuli,Tuhan! Kami bersusah payah mendengarkan seruan kebenaran.
Kami bodoh… Kami rendah… Kami berlumur dosa,Tuhan!
Mungkin tak satupun dari kami menyadari bahwa bencana terbesar adalah diri kami sendiri!
Kami yang berjilbab! Kami yang bersarung!
Kami yang bersopan- santun di hadapan mata manusia demi sebuah penghargaan!
Yang sama sekali tak sempat berpikir tentang keberadaan mata agungMu! Tentang para mata- mataMu! Tentang mata kami yang nantinya akan menjadi saksi di peradilanMu!
Tuhan… Ampuni kami…
Kami hanya para makhluk akhir zamanMu yang terlalu sering berbuat dosa.
Kami hanya manusia- manusia terakhir yang nyaris tak memahami kebaikan.
Tuhan…
Tuntunlah Kami dalam agamaMu, dalam islamMu.
Izinkan kami mencium bau surgaMu.
Izinkan kami mampu menahan bencana terdahsyat melebihi merapi dalam diri kami.
Izinkan kami untuk berkesempatan bertaubat dan menyebut namaMu di akhir hayat kami.
Izinkan malaikatMu untuk menuntun kami menuju jalan terbaikMu, Allah…
Ighfirdhunubana ya Allah, amin.
-HambaMu yang berlumur dosa, hambaMu yang berkeinginan memperbaiki diri-
Tuhan…
Kaki siapa itu? Aku melihatnya menjuntai pada tandu- tandu kematian.
Siapa mereka? Yang berubah wujud menjadi patung…
Kaku.. Dingin.. Berdebu… dan tercerai berai.
Tuhan… Anak kecil itu…
Yang masih menanggung wajah tak berdosa tetapi sudah harus terbujur kaku.
Ibunya menangis tersedu- sedu di sebelahnya, berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Yang itu! Berjalan tertatih- tatih menahan sakit karena kedua kakinya remuk.
Tuhan…
Itu!
Itu Yogyakarta…
Itu Daerah Istimewa yang terletak di pulauku.
Mereka terlebih dahulu Kau beri peringatan…
Peringatan?
Benarkah?
Atau itu ujian? Atau bencana?
Bagaimana dengan aku? Aku yang masih saja bisa tertidur lelap di atas bantalan maksiat. Aku yang masih saja tertawa lepas di bawah tindihan gunungan dosa…
Tuhan…
Sesungguhnya apakah yang Kau berikan pada mereka?
Ujian atas mereka yang tabah hatinya.
Atau peringatan atas rusaknya alam mereka?
Atau bencana atas maksiat mereka?
Atau justru… Justru kebaikanmu atas mereka?
Karena justru lebih baik mereka seperti itu, saat mereka mungkin Kau matikan dengan sebaik- baik cara yang tak satupun dari Kami, manusia, mengerti.
Saat kami mengira mereka mati mengenaskan, mungkin mengesankan bagiMu.
Siapa tahu Kau matikan mereka saat itu, saat mereka telah bersujud memohon ampunan padaMu.
Saat kami mengira itu bencana, mungkin itu hadiah terindahMu untuk mereka.
Atas sayangMu pada mereka, yang tak ingin mereka berkesempatan melakukan dosa lagi. Maka Kau berikan itu.
Tuhan…
Ampuni kami yang lalai.
Yang mengira bahwa alasan Kau tak menurunkan bencana di tanah kami adalah karena kebaikan kami, yang sesungguhnya sama sekali tak seberapa.
Yang mengira bahwa bencana dariMu dalam diri kami adalah anugerah.
Mata kami telah buta,Tuhan! Kami tak lagi dapat melihat…
Telinga kami telah tuli,Tuhan! Kami bersusah payah mendengarkan seruan kebenaran.
Kami bodoh… Kami rendah… Kami berlumur dosa,Tuhan!
Mungkin tak satupun dari kami menyadari bahwa bencana terbesar adalah diri kami sendiri!
Kami yang berjilbab! Kami yang bersarung!
Kami yang bersopan- santun di hadapan mata manusia demi sebuah penghargaan!
Yang sama sekali tak sempat berpikir tentang keberadaan mata agungMu! Tentang para mata- mataMu! Tentang mata kami yang nantinya akan menjadi saksi di peradilanMu!
Tuhan… Ampuni kami…
Kami hanya para makhluk akhir zamanMu yang terlalu sering berbuat dosa.
Kami hanya manusia- manusia terakhir yang nyaris tak memahami kebaikan.
Tuhan…
Tuntunlah Kami dalam agamaMu, dalam islamMu.
Izinkan kami mencium bau surgaMu.
Izinkan kami mampu menahan bencana terdahsyat melebihi merapi dalam diri kami.
Izinkan kami untuk berkesempatan bertaubat dan menyebut namaMu di akhir hayat kami.
Izinkan malaikatMu untuk menuntun kami menuju jalan terbaikMu, Allah…
Ighfirdhunubana ya Allah, amin.
-HambaMu yang berlumur dosa, hambaMu yang berkeinginan memperbaiki diri-
My 1st short story... : Aku Sudah Lupa Bagaimana Cara Shalat
“Aku sudah lupa bagaimana cara shalat…“
“Sudah… Ikuti saja aku. Kau tinggal meniru”.
“Tapi Kau kan tak lebih baik dariku.”
“Ya,memang. Tapi aku tahu bagaimana cara shalat. Setidaknya menurutku lebih baik darimu”.
“Aku tidak mau”.
“Kenapa pula Kau ini? Tinggal meniru saja tak mau!”.
“Karena Kau bukan manusia baik, sama saja sepertiku”.
“Apakah seorang manusia harus baik dulu baru bisa beribadah? Lalu bagaimana denganmu sendiri?”
“Ya, aku memang bukan manusia yang baik. Untuk itulah aku tak mau shalat.
Terlalu kotor diriku untuk menghadap Tuhan. Percuma saja”.
Karti tetap bergeming tak mau mengikutiku.
Sementara angin malam mulai berusaha memporakporandakan kekuatan tubuhku.
“Biarkan saja aku di sini. Kau shalatlah”,ujarnya bersikeras.
Aku terdiam.
“Kenapa tak segera shalat?”, tanyanya padaku.
“Tidak usah saja, tidak jadi”.
“Mengapa? Kau bilang bahwa Kau lebih baik dariku?”
“Itu tadi”
“Lantas sekarang Kau mengakui kebenaran pikiranku? Heh..”. Karti sedikit terkekeh karena telah berhasil menginduksikan pemikirannya kepadaku.
“Mungkin seperti itu”.
Angin masih tetap berdesir, kali ini semakin keras.
Mengirimkan panggilan shalat dari surau- surau di kejauhan.
“Pernahkah Kau berpikir bahwa surga tak pernah ada untuk orang seperti kita?”, lagi- lagi gadis cantik tapi kumal ini betanya kepadaku.
Aku semakin bingung dibuatnya. Pertanyaan dari gadis kampung di hadapanku ini cukup menggoyahkan benteng keimananku.
“Kata ibuku dulu ada”.
“Tapi aku tak seyakin itu”, ucapnya sembari mengisap rokok yang tinggal seperlima bagian.
“Mengapa? Bukankah surga dan neraka memang diciptakan?”
“Orang- orang menyebutku berandal. Ibuku sendiri kadang menghardikku dengan panggilan setan. Mungkin memang seperti itulah aku”.
Kali ini kulihat matanya mulai terlihat merah— mungkin berkaca- kaca, dan dibuangnya puntung rokok itu.
“Kenapa tak berpikir untuk berubah?”, tanyaku sebisaku.
“Percuma. Tak akan ada yang mau menerimaku”.
“Aku percaya padamu”.
“Bukankah Kau tak ada bedanya denganku? Kau yang bilang sendiri tadi.
Sudah, ayo pergi!”
Karti merengkuh gitar kecilnya dan mengajakku ke perempatan.
Dan kamipun bernyanyi— nyanyian 2 orang berandal, atau malah setan engkau menyebutnya— sambil menjulurkan tangan menerima sisa recehan para manusia— setidaknya seperti itu panggilan bagi mereka, meskipun mungkin mereka tak lebih baik dariku atau Karti.
Langganan:
Postingan (Atom)