A
rini terseok- seok menyusuri jalanan kampung.
Melewati kali kanal penuh sampah, beberapa warung kopi, dan rumah- rumah petak lainnya.
Malam itu malam kedua puluh tiga bulan Ramadhan, tapi tak ada bedanya bagi Arini.
Malam ini sama dengan malam kemarin, atau malam dulu saat ia mulai belajar memakai gincu, belajar berlatih menarik para pemuda iseng yang lewat hanya untuk menggoda dirinya, atau om- om kaya yang memang berniat menawannya.
Malam itu bulan purnama dan hening sekali, mungkin saja malam Lailatul Qadar--- begitu yang ia pernah dengar.
Hanya lagu- lagu dangdut yang diputar agak keras dari beberapa warung kopi saja yang dapat ia dengar. Beberapa kali langkahnya nyaris terjerembab, karena gaun panjang warna merahnya tak pantas melewati daerah kumuh seperti kampungnya itu.
Gaun itu… Hadiah.
Dari Om Sis. Oh, bukan... Mungkin juga dari Om Agus. Entahlah, Arini sudah lupa.
Beberapa pasang mata masih menatapnya dengan pandangan muak, atau malah jijik dan ingin muntah.
Sudah Arini katakan, malam ini tak ada bedanya dengan malam- malam sebelumnya.
10 menit berjalan, sampailah Arini pada sebuah rumah petak kecil.
Tidak bagus, yang penting cukup untuk menampungnya dan bidadari kecilnya.
Dibukanya pintu rumah hati- hati.
Oh… Intan sudah tidur.
Dengan segera dihampirinya putri kecilnya itu.
Dikecupnya kening bocah perempuan berumur 7 tahun itu, dibetulkan pula letak selimutnya.
Arini bergegas menuju meja rias kecil di sudut kamarnya.
Dinyalakannya televisi tanpa memilih channel terlebih dahulu dengan suara yang rendah.
Arini mulai membersihkan sisa riasannya, melepas bulu mata palsunya, dan menyisir rambutnya.
Dipandanginya wajahnya di cermin.
“Masih cantik…”, batinnya dalam hati.
Dibukanya tas kulit kecil yang dibawanya menjaja diri tadi.
Tujuh lembar seratus ribuan.
“Ah, baik sekali bapak muda tadi. Mungkin ini pertama kalinya dia melakukan hal ini”, Arini tersenyum senang sambil memasukkan uang tadi ke dalam dompet coklatnya.
Siaran televisi mulai mendengungkan suara kehidupan.
Rupanya acara menjelang sahur.
Pembicaranya sudah cukup terkenal. Setidaknya, Arini tahu siapa namanya.
Beberapa menit berlanjut dan Arini masih tetap tak peduli, sedangkan sang ustadz masih terus saja mengkhotbahkan dakwah- dakwah keagamaannya.
“Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk kita memperbaiki diri. Marilah kita tinggalkan maksiat, dan kembali ke jalan Allah!”.
Arini hanya melirik sebentar, kemudian mengambil remote dan mematikan televisi.
Ia hanya tersenyum mendengar kalimat tadi, dan kemudian melanjutkan merinci kebutuhan hidup dan keperluan sekolah Intan dari tujuh lembar seratus ribuan tadi.
Sekali lagi, malam ini sama dengan malam- malam sebelumnya di mata Arini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar