Ini surat untukmu, Tuhan.
Tuhan…
Kaki siapa itu? Aku melihatnya menjuntai pada tandu- tandu kematian.
Siapa mereka? Yang berubah wujud menjadi patung…
Kaku.. Dingin.. Berdebu… dan tercerai berai.
Tuhan… Anak kecil itu…
Yang masih menanggung wajah tak berdosa tetapi sudah harus terbujur kaku.
Ibunya menangis tersedu- sedu di sebelahnya, berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi.
Yang itu! Berjalan tertatih- tatih menahan sakit karena kedua kakinya remuk.
Tuhan…
Itu!
Itu Yogyakarta…
Itu Daerah Istimewa yang terletak di pulauku.
Mereka terlebih dahulu Kau beri peringatan…
Peringatan?
Benarkah?
Atau itu ujian? Atau bencana?
Bagaimana dengan aku? Aku yang masih saja bisa tertidur lelap di atas bantalan maksiat. Aku yang masih saja tertawa lepas di bawah tindihan gunungan dosa…
Tuhan…
Sesungguhnya apakah yang Kau berikan pada mereka?
Ujian atas mereka yang tabah hatinya.
Atau peringatan atas rusaknya alam mereka?
Atau bencana atas maksiat mereka?
Atau justru… Justru kebaikanmu atas mereka?
Karena justru lebih baik mereka seperti itu, saat mereka mungkin Kau matikan dengan sebaik- baik cara yang tak satupun dari Kami, manusia, mengerti.
Saat kami mengira mereka mati mengenaskan, mungkin mengesankan bagiMu.
Siapa tahu Kau matikan mereka saat itu, saat mereka telah bersujud memohon ampunan padaMu.
Saat kami mengira itu bencana, mungkin itu hadiah terindahMu untuk mereka.
Atas sayangMu pada mereka, yang tak ingin mereka berkesempatan melakukan dosa lagi. Maka Kau berikan itu.
Tuhan…
Ampuni kami yang lalai.
Yang mengira bahwa alasan Kau tak menurunkan bencana di tanah kami adalah karena kebaikan kami, yang sesungguhnya sama sekali tak seberapa.
Yang mengira bahwa bencana dariMu dalam diri kami adalah anugerah.
Mata kami telah buta,Tuhan! Kami tak lagi dapat melihat…
Telinga kami telah tuli,Tuhan! Kami bersusah payah mendengarkan seruan kebenaran.
Kami bodoh… Kami rendah… Kami berlumur dosa,Tuhan!
Mungkin tak satupun dari kami menyadari bahwa bencana terbesar adalah diri kami sendiri!
Kami yang berjilbab! Kami yang bersarung!
Kami yang bersopan- santun di hadapan mata manusia demi sebuah penghargaan!
Yang sama sekali tak sempat berpikir tentang keberadaan mata agungMu! Tentang para mata- mataMu! Tentang mata kami yang nantinya akan menjadi saksi di peradilanMu!
Tuhan… Ampuni kami…
Kami hanya para makhluk akhir zamanMu yang terlalu sering berbuat dosa.
Kami hanya manusia- manusia terakhir yang nyaris tak memahami kebaikan.
Tuhan…
Tuntunlah Kami dalam agamaMu, dalam islamMu.
Izinkan kami mencium bau surgaMu.
Izinkan kami mampu menahan bencana terdahsyat melebihi merapi dalam diri kami.
Izinkan kami untuk berkesempatan bertaubat dan menyebut namaMu di akhir hayat kami.
Izinkan malaikatMu untuk menuntun kami menuju jalan terbaikMu, Allah…
Ighfirdhunubana ya Allah, amin.
-HambaMu yang berlumur dosa, hambaMu yang berkeinginan memperbaiki diri-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar