Kamis, 17 Februari 2011

Penjara Wanita

“H
eh! Mana sarapan pagiku?? Jam segini masih saja sibuk sendiri!”
Wanita berkulit kusam itu hanya diam dihardik seperti itu. Mungkin demi menghindari amarah yang mungkin lebih meledak, atau mungkin demi mengalah kepada manusia setengah waras tersebut.
“Hei! Sudah tak becus, kenapa diam saja??”. Lelaki hitam legam itu pun naik pitam dan dengan segera mengangkat segelas air teh yang sedari tadi seperti hendak pecah dalam genggamannya. Diayunkan gelas tersebut dan, byuuuur....
Kepala ibuku basah kuyup. Basah hingga rambutnya kuyu tak beraturan.
Itu ayahku, yang telah menyiramkan segelas air teh ke kepala ibuku, istrinya sendiri.
Aku tak sengaja melihat kejadian itu saat aku keluar dari kamar untuk bersiap ke sekolah. Beberapa saat kemudian kudengar sesenggukan suara ibuku menangis. Lalu disusul makian dan mungkin tendangan— jika aku tak salah dengar— menghampiri tubuh wanita itu.
Aku sendiri sudah nyaris kehilangan naluriku sebagai manusia. Aku tak tahu harus seperti apa dan bagaimana menyikapi kejadian yang telah menjadi makanan sehari-hariku itu. Seperti biasanya, aku hanya mampu menuntun ibuku ke kamar untuk menenangkannya. Setelah kurasa ia cukup tenang, barulah aku berangkat sekolah.
Kuseret kakiku dengan malas menuju sekolahku yang berjarak kurang lebih 1 km. Semilir angin tak lebih kurasakan sebagai hawa panas yang menggelayuti batin dan pikirku. Aku sudah lelah, lelah dengan semua kekejaman yang dilakukan oleh tangan ayahku sendiri, orang yang berandil penuh dalam menghadirkanku ke dunia
Aku lelaki, tapi nyaris tak pernah bangga dengan kelelakianku. Aku bahkan membenci diriku, kenapa harus terlahir sebagai lelaki, sama seperti ayahku. Sama dengan makhluk yang selalu menyiksa ibu kandungku.
Sesampainya di sekolah pun aku mengikuti pelajaran seperti biasa. Meskipun aku berasal dari keluarga yang bisa disebut disfunctional, teman- teman dan guruku menganggapku cerdas. Aku sering menjadi sumber pertanyaan mereka untuk berbagai mata pelajaran yang belum mereka pahami. Aku tak pernah keberatan akan hal itu, bahkan aku suka berlama- lama di sekolah. Sampai kegiatan kerja bakti yang biasa dibenci siswa lain pun aku suka melakukannya. Yang penting aku tidak di rumah, tidak berada di dalamnya. Jika orang lain mengatakan bahwa rumah adalah surga, maka akulah orang pertama yang akan menyangkalnya. Rumahku adalah penjara. Penjara atas segala bentuk kebebasan. Kebebasan seorang istri untuk mendapatkan hak dan kebahagiaannya, kebebasan seorang anak dalam mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Bahkan terkadang aku sering heran memikirkan, bagaimana ceritanya dulu sampai ayah dan ibuku bisa menikah, bisa menghasilkanku. Jika terkadang aku menanyakan hal itu pada ibu, paling dia hanya akan menjawab, “Hussh, sudahlah, Le… Ndak usah tanya yang macem- macem! Kalau bapakmu dengar, malah gawat urusannya lho!”
Ibu wanita nomor satu buatku. Selama dia mampu, dia akan menyembunyikan segala bentuk kesedihannya di hadapanku. Sepuluh kali dipukul Bapak, mungkin dia hanya akan berkata satu kali. Selalu kuat dan berusaha menyenangkan aku—anak satu- satunya.
Aku terus bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang seperti itu, dalam penjara. Sampai sekarang setidaknya aku mampu sedikit bernafas lega, karena aku telah menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Surakarta. Kuputuskan untuk mencari beasiswa di kota ini, sengaja agar tak terlalu jauh dari rumah. Agar aku bisa sewaktu- waktu pulang ke rumah. Kuakui, aku merasa jauh lebih baik saat aku berada jauh dari bayangan hitam wajah ayahku. Setidaknya di sini, aku terlenakan oleh segudang aktifitas kampus dan kegiatan menulisku yang kutekuni sejak semester kedua aku berkuliah. Sebenarnya bukan pilihan yang mudah untuk memutuskan melanjutkan kuliah dan meninggalkan ibu sendirian di rumah bersamanya. Tapi kubulatkan tekad bulat- bulat untuk tetap maju pada akhirnya, dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti bila aku telah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang mapan, aku akan membawa pergi ibuku, menyelamatkannya.
Kuselesaikan tulisan demi tulisan yang menjadi tanggunganku minggu ini. Deadline dari redaktur hanya tinggal dua hari lagi. Ingin segera aku berlari sampai rumah jika kuingat suara ibuku melalui telefon dua hari yang lalu.
“ Cepat pulang yo, Le… Ibu pingin segera ketemu kamu… “
Tidak biasanya ibu menelfon seperti itu. Biasanya, akulah yang lebih sering menghubunginya untuk sekedar bertanya kabar. Dalam perbincangan dua hari lalu itu, sempat kutanyakan ke mana ayahku. Ibu hanya menjawab bahwa sudah hampir sebulan ini ia tak pulang ke rumah. Aku tak khawatir dan sama sekali tak ingin tahu kemana dia pergi, bahkan sebenarnya sama sekali tak peduli. Aku malah senang jika lelaki itu tak akan pernah kembali untuk selamanya. Meskipun menurut pengakuan ibu sekarang dia sudah jarang berbuat kasar, tetapi aku masih belum bisa menghapuskan segala bayangan hitam tentang dirinya. Tentang perlakuan kejinya terhadap ibuku dulu, tentang raut wajah bencinya tiap kali melihat wajahku. Bahkan dulu sewaktu kecil, aku ingin segera menjadi dewasa agar bisa balas memukul ayahku dengan sekuat- kuat tenagaku, atau bahkan membunuhnya—tak memberinya kesempatan lagi untuk bernafas, meskipun hanya sesaat. Tetapi saat kini aku telah dewasa, pikiran itu tak lagi muncul. Yang ada sekarang, aku hanya ingin makhluk itu tak mengganggu kehidupan kami lagi.
Aku kuliah, menjalani aktifitas kampus, menulis, dan sesekali pulang ke rumah. Begitu terus kulalui hingga tak terasa aku berada di ujung masa kuliahku. Satu demi satu ujian dan pengerjaan skripsi kulakukan dengan semangat, dengan harapan agar aku bisa membahagiakan ibuku. Aku terus melaju dan berlalu, hingga akhirnya aku berhasil menjadi salah satu dari lima lulusan dengan predikat cumlaude. Ingin aku bersorak dan mengabarkan pada seisi langit bahwa aku telah berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan. Ibu! Dia adalah orang yang akan kucium kaki dan tangannya atas keberhasilanku ini. Dia yang tak pernah berhenti mengucurkan air mata dalam tiap doanya untukku. Dia yang selalu dengan tegar berhasil melewati sesi demi sesi penyiksaan yang ayah lakukan hingga aku dewasa. Dia yang selalu mengajarkan padaku bahwa mengalah tak berarti kalah. Aku berlari seakan tanpa henti hingga terminal Tirtonadi dan mencari bus patas yang akan dengan segera mengantarku ke kampungku. Aku duduk di dalam bus, tapi batinku telah berkelana lebih cepat sampai tujuan. Ingin kukabarkan pada ibuku berita yang luar biasa ini. Kutahan denyutan di ubun- ubunku yang serasa nyaris meledak. Kutahan. Kutahan dan akhirnya sampailah aku di ujung jalan rumahku! Aku berlari dengan sejuta senyum yang mengembang. Berlari hingga jantungku serasa tak mampu mengimbangi euforia letupan isi dadaku. Hingga akhirnya aku sampai di dalam rumah dan menyadari bahwa yang kudapati di depan mataku hanyalah kosong.
Aku kebingungan mencari- cari di mana ibuku. Aku kebingungan, linglung seperti pandir yang tak pernah tahu arah. Sedang kucoba melihat ke kandang ayam di sebelah rumah saat salah tetanggaku akhirnya melihatku dan terlihat sedikit terkejut.
“Lho… Baru pulang, Le?”
“Nggih, budhe. Niki nembe ningali ibu` kok boten wonten.”
“Wealaah… Ibumu ki ning rumah sakit, Le. Wingi Bapakmu bali, koyokke kok terus ribut- ribut. Ibumu kelaran, langsung diterke pakdhemu menyang rumah sakit… Sabar yo,Le…”
Deg! Jantungku seakan berhenti berdetak selamanya. Denyutan ubun- ubunku yang sedari tadi seakan hendak meledak berbalik seperti hendak menghujam tubuhku dengan berliter cairan yang ada di dalamnya. Segera kutanyakan dimana rumah sakitnya dan tanpa banyak waktu kuseret kakiku dengan perasaan tak karuan. Tak sabar aku ingin melihat keadaannya—wanita yang paling kucintai itu.
Akhirnya kutatap wajah wanita ringkih yang semakin menua itu—yang sedang terlelap dalam. Tak sabar ingin kukabarkan padanya bahwa aku telah lulus dan siap untuk mengentaskannya dari siksa neraka dunia. Bahwa aku tak akan pernah lagi tertinggal satu langkahpun untuk melindunginya.
Tapi ternyata, penantian demi penantianku itu pada akhirnya tak berujung. Ibuku tidak akan pernah bangun… Ibuku tidak akan pernah melihat senyum kelulusanku.
Ibu meninggal dunia satu hari setelah kedatanganku. Ibuku meninggal akibat ditoyorkan kepalanya ke tembok dua hari lalu—saat ayahku tak berhasil mendapat raupan rupiah darinya. Serigala itu ternyata bangkit, setelah berpuasa beberapa lamanya. Perkiraanku bahwa mungkin dia pergi untuk bertaubat ternyata salah besar. Dia tetap serigala, dan selamanya serigala. Kucium wajah ibuku untuk terakhir kalinya, sebelum kami berpisah untuk selamanya.
“Sekolah sing pinter yo,Le… Nanti ibu ikut kamu saja kalau kamu sudah kerja dan punya istri…”
Air mataku jatuh tak tertahan ke atas bumi ini.
Sesaat setelah itu, keinginanku saat kecil dulu menyeruak dan muncul kembali tak terkendali. Seakan tak sabar untuk segera terwujudkan oleh tanganku sendiri.
Meskipun menurut pengakuan ibu sekarang dia jarang berbuat kasar, tetapi aku masih belum bisa menghapuskan segala bayangan hitam tentang dirinya. Tentang perlakuan kejinya terhadap ibuku dulu, tentang raut wajah bencinya saat melihat wajahku. Bahkan dulu sewaktu kecil, aku ingin segera menjadi dewasa agar bisa balas memukul ayahku dengan sekuat- kuat tenagaku, atau bahkan membunuhnya—tak memberinya kesempatan lagi untuk bernafas, meskipun hanya sesaat.


Diselesaikan di Tenggarong, 2 Februari 2011; 20.55

Tidak ada komentar:

Posting Komentar