“Aku sudah lupa bagaimana cara shalat…“
“Sudah… Ikuti saja aku. Kau tinggal meniru”.
“Tapi Kau kan tak lebih baik dariku.”
“Ya,memang. Tapi aku tahu bagaimana cara shalat. Setidaknya menurutku lebih baik darimu”.
“Aku tidak mau”.
“Kenapa pula Kau ini? Tinggal meniru saja tak mau!”.
“Karena Kau bukan manusia baik, sama saja sepertiku”.
“Apakah seorang manusia harus baik dulu baru bisa beribadah? Lalu bagaimana denganmu sendiri?”
“Ya, aku memang bukan manusia yang baik. Untuk itulah aku tak mau shalat.
Terlalu kotor diriku untuk menghadap Tuhan. Percuma saja”.
Karti tetap bergeming tak mau mengikutiku.
Sementara angin malam mulai berusaha memporakporandakan kekuatan tubuhku.
“Biarkan saja aku di sini. Kau shalatlah”,ujarnya bersikeras.
Aku terdiam.
“Kenapa tak segera shalat?”, tanyanya padaku.
“Tidak usah saja, tidak jadi”.
“Mengapa? Kau bilang bahwa Kau lebih baik dariku?”
“Itu tadi”
“Lantas sekarang Kau mengakui kebenaran pikiranku? Heh..”. Karti sedikit terkekeh karena telah berhasil menginduksikan pemikirannya kepadaku.
“Mungkin seperti itu”.
Angin masih tetap berdesir, kali ini semakin keras.
Mengirimkan panggilan shalat dari surau- surau di kejauhan.
“Pernahkah Kau berpikir bahwa surga tak pernah ada untuk orang seperti kita?”, lagi- lagi gadis cantik tapi kumal ini betanya kepadaku.
Aku semakin bingung dibuatnya. Pertanyaan dari gadis kampung di hadapanku ini cukup menggoyahkan benteng keimananku.
“Kata ibuku dulu ada”.
“Tapi aku tak seyakin itu”, ucapnya sembari mengisap rokok yang tinggal seperlima bagian.
“Mengapa? Bukankah surga dan neraka memang diciptakan?”
“Orang- orang menyebutku berandal. Ibuku sendiri kadang menghardikku dengan panggilan setan. Mungkin memang seperti itulah aku”.
Kali ini kulihat matanya mulai terlihat merah— mungkin berkaca- kaca, dan dibuangnya puntung rokok itu.
“Kenapa tak berpikir untuk berubah?”, tanyaku sebisaku.
“Percuma. Tak akan ada yang mau menerimaku”.
“Aku percaya padamu”.
“Bukankah Kau tak ada bedanya denganku? Kau yang bilang sendiri tadi.
Sudah, ayo pergi!”
Karti merengkuh gitar kecilnya dan mengajakku ke perempatan.
Dan kamipun bernyanyi— nyanyian 2 orang berandal, atau malah setan engkau menyebutnya— sambil menjulurkan tangan menerima sisa recehan para manusia— setidaknya seperti itu panggilan bagi mereka, meskipun mungkin mereka tak lebih baik dariku atau Karti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar