Kamis, 17 Februari 2011

Jurang

Aku benci dengan semua orang kaya. Bahkan mereka yang berpura- pura kaya.
Yang mengendarai sebuah mobil hanya untuk pergi ke minimarket terdekat.
Yang selalu menutup wajah kepanasan saat mereka harus keluar dari ruangan- ruangan mereka yang ber-AC.
Yang selalu mengeluh hanya karena kaki mereka terciprat lumpur karena hujan.

Aku benci dengan pria- pria kaya, yang selalu menjadikan hartanya sebagai pelunas atas segala kedangkalan otak mereka di hadapan para kekasihnya.
Yang selalu menahan kekasihnya yang akan membayarkan bill makan malam mereka, padahal sang gadispun hanya pura-pura hendak membayarkan.

Akupun tak kalah benci dengan wanita- wanita kaya, yang selalu berkacamata hitam tebal ke mana saja mereka pergi.
Yang menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli tas sandang, atau untuk sabun gosok wajah mulus mereka.

Anak- anak kaya apalagi. Yang selalu mengoleksi berbagai permainan canggih yang sekalipun belum pernah aku menyentuhnya.
Yang seringkali menangis cengeng hanya karena bekal makanan mereka terasa kurang enak.
Yang secara ajaib dapat memasuki sekolah- sekolah ternama, padahal otak mereka tak beda jauh dengan udang.

Aku anak miskin, di sini.
Setiap pagi digedor bagai buruh kasar, dianggap tukang tidur sekalipun aku hanya tidur tiga jam semalaman.
Mencuci piring, membantu memasak, menghalau kambing- kambing yang masuk pekarangan.
Aku di sini, sejak kecil dibesarkan di panti ini.
Aku yang tak pernah melihat seperti apa wujud orang tuaku.
Aku yang setiap pagi mengulurkan tangan menerima uang saku seribu rupiah.
Aku yang pernah dimaki habis- habisan oleh seorang bapak kaya, hanya karena tak sengaja menggores cat mobilnya.
Aku yang selalu terdiam saat teman- teman kayaku mengejekku karena tak memiliki boneka barbie seperti mereka.
Aku yang seringkali dipandang setengah mata oleh orang lain, meskipun mereka juga belum tentu lebih baik dariku.

Aku benci semua orang kaya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar