Kamis, 17 Februari 2011

Seperti Mereka

Aku masih terus mengamatinya.
Anak laki- laki kecil berusia 10 tahun itu, berjalan bersama adik perempuannya yang mungkin masih berusia 5 atau 6 tahun.
Sesekali bercanda, saling cubit lalu tertawa.
Dari kejauhan kulihat ibunya yang duduk di bawah pohon jambu air.
Menanti, atau lebih tepatnya mengawasi kedua anaknya mencari nafkah. Entah siapa yang patut dipersalahkan dalam hal ini, aku tak tahu. Anak kecil seusia mereka, yang belum tahu betul betapa kejamnya dunia, menyeret langkah di sepanjang trotoar demi rasa iba dan santunan ratusan bahkan ribuan manusia modern— yang menghabiskan ratusan atau jutaan rupiah hanya untuk sekali makan— yang setiap kali mengeluh hanya karena telah berjalan sejauh beberapa meter tanpa mobil— yang berlalu lalang.
Terkadang beberapa dari mereka memberi, sekadar lima ratus atau dua ratus rupiah. Tapi tak sedikit pula yang hanya berlalu, menutup mata dan tak mau tahu akan kehadiran dua malaikat kecil pembawa bekas bungkus makanan ringan itu.
Entah di mana ayahnya. Mungkin sudah mati, atau mungkin ibunya sendiri tak tahu siapa ayah mereka.
Si ibu— yang mungkin lelah karena sesiangan telah melakukan tugas serupa sehingga merelakan untuk digantikan sementara oleh kedua anaknya— sekarang nampak sudah tertidur pulas.
Aku masih terus mengamati mereka dari kejauhan.

Sekarang sang kakak laki- laki mengalungkan tangannya ke pundak adik perempuannya.
Manis… Sungguh indah tiada terperi pemandangan ini.
Seorang anak kecil yang umurnya jauh puluhan tahun di bawahku, namun mampu begitu dewasanya terhadap seorang yang disayanginya. Anak perempuan itu, sekarang tengah menunjuk pada mainan- mainan yang dijajakan di pinggir jalan. Mulai merengek.
Dia menginginkan mainan itu. Mainan murahan, yang mungkin sama sekali tak ada artinya bagi kebanyakan orang, yang mungkin hanya dibeli hanya untuk dimainkan sekali lalu dibuang.
Sang kakak jongkok, membisikkan sesuatu kepada adiknya.
Mungkin memberi tahu, bahwa uang yang mereka punya tak cukup untuk membelinya. Atau mungkin menjanjikan untuk membelikannya pada saat ulang tahun adiknya tiba, bukan sekarang.
Ah… Ulang tahun. Mana ingat mereka tentang hal itu? Tahu saja mungkin tidak. Yang mereka tahu hanya bekerja, untuk kehidupan mereka sekeluarga. Keluarga.
Mereka terus berjalan, masih menyusuri trotoar yang sama.
Namun aku sudah tak berada pada tempatku berada tadi.
Aku melayang, seperti medusa yang sebelum akhirnya berubah menjadi ubur- ubur sempurna.
Aku terbang, jauh menembus keberadaan masa.
Kulihat ibuku, bapakku, aku dan kedua kakak laki- lakiku.
Dulu, dulu sekali.
Saat usiaku mungkin tak jauh berbeda dari gadis kecil tadi.
Saat aku masih merasa menjadi bagian dari hidup yang sempurna.
Saat bapak masih sering mengangkatku tinggi tinggi dan kemudian menjatuhkanku ke atas ranjangku.
Saat ibu masih tersenyum melihat aku menjadi korban dari kejahilan kedua kakak laki-lakiku.
Saat aku masih menunggu kakak- kakakku pulang sekolah di pintu depan rumah.
Saat aku dan kakak- kakakku mengendap- endap untuk bermain keluar rumah saat waktu tidur siang tiba.
Saat kami dibelikan baju koko dan sarung baru untuk lebaran…
Saat itu, dulu.
Jauh sebelum aku berada di pinggiran kota kecil ini sekarang— yang menurutku tak sehangat dulu ketika aku masih bersama mereka— berdiri mengamati kedua anak kecil peminta- minta. Dulu, sebelum masa telah merubah semua.

Dan tiba- tiba aku ingin menjadi mereka, anak kecil bersama kakak dan ibunya. Bersama keluarga.

2 komentar:

  1. wah,rahma jago euy nulisnya....KEREN!!jadi termewek mewek ni bacanya

    yumi^___^

    BalasHapus
  2. Hwkwk,, bisa aja Yumi ^^
    Itu tulisan iseng2 berhadiah.Hhe..
    Makasih yak,, ;)

    BalasHapus