Kamis, 17 Februari 2011

Suara Mahakam

Musim ini masih tetap sama dengan tahun- tahun yang lalu. Daun- daun kering berwarna keemasan masih setia mengguguriku tiap kali aku melewati kerindangannya. Jembatan Mahakam itu… Ah, masih berdiri tegap di tengah rayuan maut sungai terpanjang di Indonesia itu. Decitan burung- burung gereja pun tak kalah riuh dengan gemerisik angin yang bertiup lembut.
Aku juga masih sama.
Masih merindukan pria yang satu itu. Hmm… Kuhembuskan nafas panjang tiap kali menyebut namanya.
Kusibakkan jilbab merah jambu yang kubeli dari tawar menawar sengit dulu bersamanya. Aku yang tak pernah mau kalah harga, dan dia yang hanya tersenyum lucu melihat keseriusanku menawar.
Hah… Di mana lagi bisa kutemukan lelaki seperti itu. Yang begitu polos dan lugunya, tapi tetap bersahaja dan mempesona. Lelaki ndeso, tapi justru itulah yang pada zaman sekarang ini begitu sulit dicari. Lulusan pesantren, anak kampung, jujur dan tidak neko- neko. Yang ternyata diam- diam menyimpan bergudang ilmu dalam otak dan hatinya. Lebur semua pandangan kolotku tentang ketertinggalan anak pesantren, tentang kumal dan kolotnya mereka saat aku mulai mengenal dirinya. Dia selalu rapi dan wangi… Padahal sebagian orang di sana masih mempeributkan halal atau haramnya pemakaian minyak wangi. Dia juga suka belajar bahasa Inggris dan suka sekali kuajak menonton film di bioskop, sementara ada orang yang mengatakan bahwa hal- hal tersebut sama sekali tak bermanfaat. Pernah suatu kali kutanyakan padanya mengapa dia tak berpikiran sama seperti mereka, jawabannya ringan saja dan membuatku terkekeh. “Masih banyak yang harus diurusi. Bukan minyak wangi saja, Dek…” Pengetahuan dan wawasannya pun di luar dugaanku. Tak hanya ilmu qur`an, tajwid, atau tafsir saja yang dikuasainya. Terakhir yang kutahu, dia juga aktif dalam redaksi kampus.
Meskipun begitu, dia tetap dia yang sebenarnya. Yang tetap ndeso dan apa adanya. Kuingat betul ekspresi wajahnya yang aneh saat pertama kali kukenalkan pada hamburger. Setengah ragu- ragu dijilatinya lelehan keju yang ada di pinggirannya, sampai kemudian berkata… “Ternyata enak ya, Dek”. Aku hanya tersenyum padanya dan mengangguk tanda setuju.
Kembali kutekuri riak- riak Mahakam yang bersilau- silau gemerlapan. Berdiri, kususuri tepian sungai itu. Saat tiba- tiba— secara ajaib— sosok itu muncul di hadapanku! Di gemerlapan kilau Mahakam!
Kubuka Mulutku lebar- lebar lalu memanggilnya, tak akan pernah kubiarkan lagi dia lari dari hadapanku.
“Mas!”
Suara daun- daun gugur, suara riak Mahakam, dan decitan burung gereja terdengar semakin jelas saat ternyata tak ada satu nada suarapun keluar dari mulutku. Aku ternganga.
Ternyata itu suara hatiku.

2 komentar: